Senin, 01 November 2010

Penerapan K3 pada Industri Pertambangan, Migas, dan Batubara di Indonesia


Seminar Nasional K3
”Penerapan K3 dan Lingkungan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) pada Industri Pertambangan, Migas, dan Batubara di Indonesia”
Jakarta, 24 - 25 Juni 2009

Hari Ke-1, Sesi Ke-1
PENGAWASAN PELAKSANAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUMI
Oleh : Ir. Suyartono, M.Sc.

Regulasi keteknikan Migas :
Obyek: Instalasi, Tenaga Teknik dan Produk Migas
Tujuan: Andal, aman dan akrab lingkungan 
Aspek/parameter yang diatur:
§ Keselamatan Operasi Migas
-        Keselamatan Umum, dengan keluaran keamanan umum
-        Keselamatan Pekerja, dengan keluaran keamanan dan kesehatan pekerja
-        Keselamatan Lingkungan, dengan keluaran keamanan lingkungan
-        Keselamatan Instalasi, dengan keluaran pengamanan instalasi
§ Keandalan Instalasi, dengan keluaran instalasi yang andal
§ Konservasi Sumber Daya, dengan keluaran pengurasan yang berkelanjutan
§ Pemurnian dan Pengolahan, dengan keluaran tersedianya bahan bakar dan hasil olahan
§ Infrastruktur Teknologi
-        Sertifikasi, dengan keluaran Sertifikat kompetensi/kelaikan/mutu
-        Akreditasi, dengan keluaran Sertifikat akreditasi lembaga
-        Metrologi, dengan keluaran Sertifikat kalibrasi alat ukur         
§ Pemberlakuan SNI/SKKNI
§ Sertifikasi Kesesuaian, dengan keluaran Sertifikat Kesesuaian SNI/SKKNI, Kepmen ESDM
§ Pengembangan Lingkungan dan Masyarakat Setempat, dengan keluaran terciptanya pembangunan migas yang berkelanjutan
§ Kegiatan Usaha Jasa Penunjang Migas, dengan keluaran Badan usaha penunjang yang profesional
Visi Peningkatan Keselamatan MIGAS
Terciptanya kegiatan usaha migas yang memenuhi aspek keselamatan migas
Misi Peningkatan Keselamatan MIGAS
§  Menerapkan kaidah keteknikan yang baik pada semua tahapan kegiatan sehingga memenuhi regulasi dan standar
§  Mewujudkan penggunaan tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi standar kompetensi
§  Mewujudkan operasi pada kegiatan usaha migas yang berwawasan lingkungan
§  Menciptakan rasa aman bagi masyarakat di sekitar kegiatan usaha migas
§  Mewujudkan operasi peralatan dan instalasi pada kegiatan usaha migas yang aman dan handal
Sasaran Peningkatan Keselamatan MIGAS
Keselamatan Pekerja
§  Tercapainya angka kecelakaan nihil
§  Diberlakukannya secara wajib SKKNI pada kegiatan usaha migas
Keselamatan Instalasi dan Peralatan
§  Diberlakukannya secara wajib SNI pada kegiatan usaha migas yang berkaitan dengan keselamatan migas
Keselamatan Umum
§  Meningkatnya partisipasi dan kesadaran masyarakat umum di sekitar kegiatan usaha migas dalam aspek keselamatan operasi migas
§  Tumbuhnya rasa kepedulian dan tanggung jawab terhadap kegiatan usaha migas
Keselamatan Lingkungan
Tercapainya pengembangan industri migas yang ramah lingkungan (GOGII)  antara lain:
§  Zero discharge
§  Zero waste
§  Clean water
§  Clean air
§  Go renewable
§  Zero flare pada tahun 2012
.
Hari Ke-1, Sesi Ke-2
IDENTIFIKASI & EVALUASI FAKTOR KESEHATAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PENYAKIT AKIBAT KERJA
Oleh : Syahrul Efendi, MKKK

Pentingnya Lingkungan Kerja
Setiap pekerjaan mempunyai potensi bahaya kesehatan dan keselamatan. Manusia perlu makan dan memenuhi kebutuhan hidup, untuk itu manusia bekerja. Dalam bekerja, manusia perlu pekerjaan yang nyaman, kondisi kesehatan prima dan kondisi lingkungan kerja yang kondusif.
Ada 2 metode dalam upaya menimbulkan lingkungan kerja yang sehat, yaitu dengan pemeriksaan kesehatan dan pengujian lingkungan kerja. Kedua metode ini harus dilaksanakan secara beriringan.
Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan bertujuan :
-   Deteksi dini terhadap penyakit
-   Menetapkan kecakapan kerja (fitness status)
-   Mematuhi peraturan perundang-undangan
-   Data dasar pembanding di masa yang akan
-   Sebagai dasar menilai efektifitas program pencegahan yang sudah dilakukan
Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada
1.    Awal
-   Pra kerja
-   Pra penempatan atau alih tugas
2.    Selama bekerja
-   Berkala
-   Khusus akibat pajanan tertentu
3.    Akhir
-   Pasca penempatan
-   Pensiun
Kategori fitness :
·         Fit to work
·         Fit with restriction
-   Fit dengan akomodasi
-   Fit dengan resiko kesehatan rendah
-   Fit dengan resiko kesehatan sedang
·         Temporarily unfit to work
·         Unfit for special occupation
·         Unfit to work
Tindak lanjut pemeriksaan kesehatan :
-       Tindakan medik yang diperlukan dalam rangka pengobatan
-       Rujukan ke spesialis yang bersangkutan dengan penyakit tertentu.
-       Sertifikasi kecakapan bekerja (fitness)
Pemerikasaan kesehatan harus bersifat ”job-related”
Agar pemeriksaan kesehatan tenaga kerja menjadi program yang cost-efektif, maka perlu dilakukan penilaian faktor resiko (fisik, kimiawi, biologi, ergonomi, psikososial)
Pengujian Lingkungan Kerja
Pengujian lingkungan kerja mempunyai 2 metode pengujian :
-       Kualitatif (Survey jalan lintas)
-       Kuantitatif (Pengukuran)
Dengan metode kualitatif, secara profesional menilai lingkungan pekerjaan seperti proses kerja, cara kerja, bahan baku, bahan tambahan, hasil produksi, limbah, dan efek dari semua bahan.
Dengan metode kuantitatif, diadakan pengamatan pengukuran terhadap tingkat bahaya dari bahan/zat, lama pemaparan, cara masuk bahan ke dalam tubuh, faktor fisik (suhu, bising, getaran, pencahayaan, radiasi, ergonomi) serta aktivitas pekerja lalu dibandingkan dengan standar (Nilai Ambang Batas)
Penilaian resiko kesehatan mempunyai langkah-langkah :
1.    Identifikasi bahaya potensial, dilakukan dengan mempertimbangkan
-   kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya
-   jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi
2.    Tentukan cara bahaya tersebut masuk ke tubuh
3.    Identifikasi efek kesehatan bahaya potensial
4.    Lakukan penilaian resiko kesehatan, yaitu proses untuk menentukan prioritas pengendalian terhadap tingkat resiko kecelakaan atau penyakit akibat kerja
5.    Mengembangkan solusi eliminasi resiko
6.    Merekam dan mengimplementasi

Hari Ke-2, Sesi Ke-1
HAZARD PREDICTION
Oleh Maman Hermansyah

Definisi
Kecelakaan (Accident) adalah terjadinya sesuatu dari luar yang tidak diharapkan dan tidak diinginkan yang datang tiba-tiba yang dapat menyebabkan cedera badan (bodily injury) atau kerugian materi (property damage)
Sumber kecelakaan kerja
-       Kondisi tidak aman
-       Tindakan tidak aman
·         Pelanggaran
·         Kesalahan manusia
§ Keterbatasan kapasitas
§ Kesalahan tak disengaja
§ Terlewat pikiran
§ Kurang pengetahuan dan keahlian
Kampanye Zero Accident
Dasarnya adalah untuk menghargai nyawa manusia
Dimulai pada tahun 1973 di Jepang oleh Asosiasi K3 Industrial Jepang yang merupakan pengembangan dari metode control kualitas
3 prinsip dasar zero accident
-       Prinsip zero accident
-       Prinsip tindakan pencegahan
-       Prinsip partisipasi
Teknik identifikasi bahaya adalah metode pelatihan dimana pekerjaan diberikan peringatan dini mengenai kondisi tidak aman atau tindakan tidak aman di lingkungan kerja untuk memastikan keselamatan diri pekerja dan rekan-rekan pekerja lainnya, dilakukan terutama pada pertemuan sebelum bekerja dan digabung dengan praktik menunjuk dan menyebut.
Langkah identifikasi bahaya :
1.    Memahami situasi actual yaitu dengan menemukan bahaya apa saja yang tersembunyi.
2.    Menyelidiki realitas yaitu dengan menemukan titik bahaya
3.    Membangun control yaitu dengan menentukan apa yang akan dilakukan
4.    Menetapkan target yaitu dengan menemukan titik bahaya kembali

Hari Ke-2, Sesi  Ke-2
PENDEKATAN PERILAKU DALAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Oleh : Dr. H. Adjat Daradjat, M.Si.

Perlunya Komitmen dalam Melaksanakan K3
1.    K3 merupakan kebutuhan bersama (mutual needs)
-          Pekerja
-          Pengusaha dan manajemen
-          Stake holder
2.    Kuatnya pengaruh sikap dan perilaku dalam K3
3.    Dibutuhkannya partisipasi, tanggung jawab, dan kerjasama dalam K3
Proses Terbentuknya Komitmen
-    Komitmen adalah produk dari sikap (attitude),  sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang diekspresikan dalam perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan tindakan (konasi). Stimuli berasal dari individu, situasi, issu social, kelompok, atau obyek lain.
-    Komitmen K3 merupakan sikap social seseorang dan atau kelompok orang mengenai K3, yang merupakan respons terhadap stimulus social dan diekspresikan dalam perasaan, pemikiran (kepercayaan) dan perilaku (tindakan).
-    Permasalahannya adalah sering terjadi inkonsistensi dan ketidakselarasan dari ketiga komponen sikap.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Komitmen K3
Komitmen K3 terbentuk melalui interaksi social, yaitu kontak social dan hubungan antar individu maupun dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologisnya, satu sam lain saling mempengaruhi.
Faktor-faktor interaksi sosial :
1.    Pengalaman  pribadi
2.    Orang lain yang dianggap penting
3.    Budaya dan lingkungan
4.    Media massa
5.    Lembaga pendidikan dan lembaga agama
6.    Faktor emosional
7.    Faktor intelegensia
Aktualisasi Komitmen K3 Dalam Praktek
1.    Kesepakatan tertulis (Safety Agreement)
2.    Kebijakan (Safety Policy)
3.    Pemenuhan kapasitas K3 (Capacity Building)
4.    Program

Hari Ke-2, Sesi Ke-3
PENGUJIAN LINGKUNGAN KERJA
Oleh : DR. Dewi Rahayu

Faktor-faktor yang mempengaruhi performa kerja :
-   Beban kerja
-   Baban tambahan (lingkungan kerja)
-   Kapasitas kerja : mental, fisik
Hubungan antara pekerjaan dan kesehatan
Status kesehatan sebelum bekerja dan pajanan pekerjaan dapat menyebabkan efek kesehatan yang beragam.
Status kesehatan antara lain psychosocial, gen, diet, lingkungan, dan kebiasaan. Efek kesehatan antara lain sehat, penyakit laten, penyakit klinis, dan kematian.
Interaksi tempat kerja dan pekerja
Tempat kerja dan pekerja saling mempengaruhi  yang dapat menimbulkan efek kesehatan yang beragam.
Faktor-faktor di tempat kerja adalah lingkungan kerja, pekerjaan, dan organisasi.
Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat menimbulkan Penyakit akibat Kerja (PAK) dengan diagnose maka diupayakan usaha pengobatan dan rehabilitasi yang dapat menghasilkan penyembuhan PAK.
Lingkungan kerja yang tidak sehat harus diidentifikasi dan dievaluasi sehingga ada upaya pengendalian dan pencegahan, yang pada akhirnya dapat menghasilkan lingkungan kerja yang sehat.
Faktor-faktor bahaya lingkungan kerja :
1.    Faktor fisik
Dapat berupa kebisingan, cuaca kerja, cahaya, getaran, dan radiasi
2.    Faktor kimia
Dapat berupa zat padat, gas, uap, dan cair
3.    Faktor biologi
Dapat berupa virus atau bakteri
4.    Faktor fisiologi
Dapat berupa faktor ergonomi
5.    Faktor mental psikologi
Dapat berupa hubungan antar atasan bawahan, antar pekerja
Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dan lingkungan kerja harus dilakukan secara beriringan sehingga didapatkan lingkungan kerja yang benar-benar sehat.

APLIKASI RISK ASSESSMENT


RINGKASAN WORKSHOP NASIONAL K3
“APLIKASI RISK ASSESSMENT DI PERUSAHAAN UNTUK MANAJEMEN DAN STAF SENIOR”
Jakarta, 20 – 21 Januari 2010

Hari Ke-1, Sesi Ke-1
Pengelolaan Risiko Sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja
Oleh : Suseno Hadi

-       Setiap tahun 2.3 juta pekerja meninggal akibat work-related accidents dan 1.95 juta pekerja meninggal akibat work-related diseases. Kecelakaan juga menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US$1.25 trillion (ILO, 2009)
-      Berdasarkan tingkat kecelakaan kerja, Indonesia menempati urutan ke-152 dari 153 negara yang diteliti. Tahun 2010, Indonesia diperkirakan masih berada diperingkat 100 ke atas (Depnaker, 2009)
§ Manajemen risiko ditujukan untuk mengurangi berbagai resiko pada tingkat yang tolerable (accepted level)
§ Bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan celaka/luka/kerugian, kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, kerusakan property, dan lain-lain.
§ Risiko adalah kemungkinan/probabilitas terjadinya cidera dari suatu bahaya. Risiko merupakan fungsi dari severity (consequence) dan likelihood (probability).
§ Proses manajemen risiko:
-       Identifikasi sumber-sumber bahaya (Hazard and Risk Identification)
-       Penilaian resiko (Risk Assessment)
-       Pengendalian bahaya dan resiko
§ Jenis-jenis penilaian risiko:
-       Kuantitatif
-       Semi kuantitatif
-       Kualitatif
§ Pengkajian ulang manajemen risiko dilaksanakan ketika:
-       Adanya perubahan internal
Contoh: sebelum modifikasi, perubahan atau pengenalan material baru, mesin atau proses, prosedur kerja.
-       Adanya perubahan eksternal
Contoh: adanya amandemen peraturan dan adanya perkembangan ilmu dan teknologi.
.
Hari Ke-1, Sesi Ke-2
Aplikasi Risk Assessment di Perusahaan
Oleh : Nasrul Sjarief

§ Alasan pentingnya risk assessment dilaksanakan:
-       Human Factors : menyelamatkan kehidupan, menghentikan cidera dan sakit akibat pekerjaan, meningkatan disiplin, moral, partisipasi dan keterlibatan pekerja
-       Legal Factors: memenuhi dan mentaati peraturan perundangan yg berlaku.
-       Financial Factors : mengendalikan biaya, mutu, meningkatkan produktivitas, delivery on time, menurunkan tingkat absensi,  meningkatkan nilai saham.
§ Elemen utama manajemen risiko:
1.   Penetapan Konteks
2.   Identifikasi Bahaya (Hazard Identification);
3.   Penilaian Risiko (Risk Assessment);
4.   Pengendalian Risiko (Risk Control);
5.   Risk Monitoring;
6.   Risk Review;
7.   Komunikasi dan Konsultasi  
§ Peran dan tanggung jawab manajemen dalam manajemen risiko:
-       Menetapkan dan menunjuk ketua team;
-       Menjamin rekomendasi pengendalian risiko diimplementasikan tanpa ditunda;
-       Menginfokan kepada semua pekerja:
o  Risiko yang terdapat di tempat kerja;
o  Cara-cara untuk mengendalikannya
-       Menyediakan catatan temuan dari pelaksanaan risk assessment (Risk assessment register);
-       Mengesahkan dan menyetujui hasil pelaksanaan risk assessment;
-       Mereview dan memperbarui apabila terjadi perubahan atau kecelakaan di tempat kerja.
§ Peran dan tanggung jawab pekerja dalam manajemen risiko:
-       Berpartisipasi dan membantu pelaksanaan risk assessment;
-       Mentaati atau mematuhi SOP yang  ditetapkan untuk mengurangi atau meminimumkan risiko yang ada di tempat kerja;
-       Menginfokan supervisor jika terdapat kelemahan SOP atau persyaratan lain dalam pengendalian risiko.
§ Langkah-langkah dalam melakukan manajemen risiko:
1.   Preparation;
2.   Hazards Identification;
3.   Risk Evaluation;
4.   Risk Control;
5.   Record Keeping;
6.   Implementation, Monitoring  and Review 
§ Preparation:
1.  Pembentukan team
Penilaian risiko tidak pernah dilakukan oleh satu orang tetapi dilakukan oleh multi disciplinary team yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terhadap pekerjaan yang dilakukan.
2.  Pengumpulan informasi
Beberapa informasi yang diperlukan:
o  Plant layout plan;
o  Process flow chart;
o  List of work activities;
o  List of chemical used;
o  List of machinery and tools used;
o  Records of past incident and accident;
o  Relevant legislation;
o  Relevant codes of practice;
o  Inspection records;
o  Maintenance Record;
o  Details of existing risk control;
o  OSH audit reports;
o  Feedback from staff, clients, suppliers or other stakeholders;
o  Safe work procedures;
o  Minutes of OSH Committee Meeting
o  Other information such as MSDS, manufacturer’s instruction manual;
o  Copies of any relevant previous risk assessments.
§ Hazard identification technique dibagi dalam 4 kategori, yaitu:
1.   Process Hazards Identification;
Metode yang bisa digunakan:
o  HAZOPS
o  What if? Analysis
o  Preliminary Hazard Analysis (PHA)
o  Fault Tree Analysis (FTA)
o  Cause Consequence Analysis (CCA)
o  Concept Safety Review
o  Checklist
o  Standard/Code of Practice/ Literature Review
o  Functional Integrated Hazard Identification (FIHI)
o  Critical Examination of System Safety (CEX)
o  Method Organized Systematic Analysis of Risk (MOSAR)
o  Goal Oriented Failure Analysis (GOFA)

2.   Hardware Hazards Identification;
o  Safety Audit
o  Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
o  Failure Modes, Effects and Critically Analysis (FMECA)
o  Maintenance and Operability Study (Mop)
o  Maintenance Analysis
o  Reliability Block Diagram
o  Structural Reliability Analysis
o  Vulnerability Assessment

3.   Control Hazards Identification;
o  Computer HAZOP
o  Structured Methods
o  Structured Analysis and Design Techniques (SADT)
o  State-transition Diagrams
o  Petri nets
o  Graphe de Commande Etat-Transition (GRAFCET)
4.   Human Hazards Identification.
o  Task Analysis
o  Hierarchical Task Analysis (HTA)
o  Action Error Analysis (AEA)
o  Human Reliability Analysis (HRA)
o  Pattern Search Method
o  Predictive Human Error Analysis (PHEA)
1.   Identifikasi existing risk control
2.   Menilai potential severity dari hazard
Contoh penilaian potential severity dari hazard berdasarkan AS/NZ 4306 – Risk Management Guidelines:
Level
Description
Detail Description
1
Insignificant
No injuries, low financial loss
2
Minor
First Aid Treatment, on site release immediately contained, medium financial loss
3
Moderate
Medical treatment required, on site release contained with out site assistance, high financial loss
4
Major
Extensive injuries, loss of production capability, off site release with no detrimental effects, major financial loss
5
Catastrophic
Death, toxic release off site with detrimental effect, huge financial loss

3.   Menentukan likelihood dari kejadian
Contoh penentuan likelihood berdasarkan AS/NZ 4306 – Risk Management Guidelines:
Level
Description
Detail Description
A
Almost certain
Is expected to occur in most circumstances
B
Likely
Will probably occur in most circumstances
C
Possible
Might occur at some time
D
Unlikely
Could occur at some time
E
Rare
May occur only in exceptional circumstance


4.   Menilai tingkat risiko berdasarkan severity dan likelihood
      Contoh penentuan tingakat risiko berdasarkan AS/NZ 4306 – Risk Management Guidelines:
Likelihood
Severity
Insignificant
1
Minor
2
Moderate
3
Major
4
Catastrophic
5
A
 (almost certain)
H
H
E
E
E
B
(likely)
M
H
H
E
E
C
 (possible)
L
M
H
E
E
D
(unlikely)
L
L
M
H
E
E
(rare)
L
L
M
H
H

Keterangan:
Level
Description
Action
E
Extreme Risk
Immediate action required
H
High Risk
Senior management attention needed
M
Moderate Risk
Management responsibility must be specified
L
Low Risk
Managed by routine procedures

§ Hierarchy of risk control:
1.   Elimination
2.   Substitution
3.   Engineering control
4.   Administrative control
5.   PPE
§ Alasan perlunya record keeping:
-       Menunjukkan proses dilakukan dengan layak
-       Menyediakan bukti bahwa telah dilakukan pendekatan sistematis dalam identifikasi dan analisis risiko
-       Menyediakan pengambil keputusan dalam merencanakan dan tindaklanjut pengendalian risiko
-       Menyediakan sebagai mekanisme dan alat pertanggungjawaban
-       Memfasilitasi monitoring dan review yang berkelanjutan
-       Menyediakan bukti audit
-       Memberikan dan mengkomunikasikan informasi
§ Risk treatment schedule and action plan berisi:
-       Siapa yg bertanggung jawab untuk menerapkan rencana aksi;
-       Sumber daya yang akan digunakan;
-       Alokasi budget;
-       Timetable untuk penerapan rencana aksi;
-       Rincian mekanisme dan frekuensi review pemenuhan rencana pengendalian risiko


Hari Ke-2, Sesi Ke-1
What If : Tool Identifikasi Bahaya
Oleh : T. Saud P. Siahaan & Roslinormansyah

§ What if adalah sebuah teknik yang predictif, analitik dan sistematik untuk mengidentifikasi potensi bahaya, situasi yang berpotensi bahaya, atau suatu urutan kejadian yang dapat menghasilkan dampak yang tidak diinginkan.
§ Proses what if:
-       Tim melakukan tukar pikiran (Brainstorming) untuk menyusun pertanyaan terhadap kondisi proses yang dimulai dengan kalimat “What if…?
-       Setiap pertanyaan yang disusun mewakili potensi kegagalan fasilitas atau ketidakbenaran operasional fasilitas
-       Respon dari proses dan/atau operator selanjutnya dievaluasi untuk mendapatkan gambaran situasi/kondisi bila potensi bahaya benar-benar terjadi
-       Kemudian “alat pengendali” (safeguards) dikaji kemampuannya terhadap probilitas dan keparahan suatu insiden untuk menentukan apakah perubahan alat kendali perlu dilakukan atau tidak.
§ Keunggulan What if:
-       Sangat berguna untuk identifikasi potensi bahaya di awal sebuah proses, contoh bila hanya tersedia “alur proses” saja
-       Analisis What If lebih menguntungkan ketimbang HAZOPs karena dapat dipakai pada situasi/kondisi apapun.
-       Tidak mampu mengidentifikasi penyebab dasar kondisi/situasi
-       Pertanyaan yang digunakan dapat menyebar sehingga tidak efisien dan efektif

  
Hari Ke-2, Sesi  Ke-2
Job Safety Analysis (JSA)
Oleh : T. Saud P. Siahaan & Roslinormansyah

§ JSA adalah alat identifikasi bahaya yang fokusnya pada potensi-potensi bahaya yang ada di dalam tugas-tugas pekerjaan  yang dapat menimbulkan insiden.
§ Kelebihan JSA:
-       Proses identifikasi bahaya menjadi terorganisir dan pendekatannya sistematis
-       Dalam identifikasi bahaya, penyebab dan langkah perbaikannya jelas
-       Melibatkan karyawan – meningkatkan kepedulian
-       Terstandarisasi dan berbasis pada aktifitas operasional
-       Dapat menjadi dokumen pendukung saat :
o  Investigasi/Analisis kecelakaan kerja
o  Akuntabilitas
§ Tiga hal yang wajib dipertimbangkan saat menjalankan JSA:
-       Apa yang dilakukan ? (Tugas)
-       Apa risikonya ? (Potensi Bahaya - Hazard)
-       Bagaimana dijalankan dengan aman ? (Pengendali)
§ Tahapan pembuatan JSA:
-       Membagi (break down) pekerjaan/tugas dalam urutan-urutan
-       Setiap tahap, potensi bahayanya diidentifikasi
-       Tentukan pengendalian dari bahaya yang teridentifikasi.